Login

Minggu, 26 Juni 2011

MANAJEMEN INVESTASI


MANAJEMEN INVESTASI
Oleh : Arowadi Lubis[1]
A.    Pengertian Investasi
Investasi dalam pengertian perusahaan (bank) adalah aktifitas bank untuk menggunakan dana yang dimilikinya, membeli harta tetap yang mempunyai nilai jangka panjang, atau untuk membeli surat berharga jangka panjang ( satu sampai sepuluh tahun)
Dana yang digunakan untuk investasi ini adalah dana yang didapat sesudah bank menempatkan dananya menurut prioritas penggunaan dana bank. jadi misalnya untuk primary reserve ditentukan 7 dari total dana, lalu secondary reserve  30 dari total dana, pemberian kredit 50 dari total dana, untuk investment adalah 100 – 7 – 30 – 50 = 8 dari total dana.
Perencanaan pengalokasian dana ini biasanya dilakukan oleh bank-bank yang sudah mempunyai asset liability committee (ALCO) yang berfungsi dengan baik. Perencanaan dilakukan pada permulaan tahun anggaran baru[2].

B.     Tujuan Bank Membeli Surat-surat Berharga
Tujuan bank dalam membeli surat-surat berharga ada dua macam, yaitu sebagai berikut:
1.      Untuk menambah likuiditas bank
Dalam hal ini surat berharga yang dibeli adalah surat berharga jangka pendek yang dapat dicairkan sewaktu-waktu dibutuhkan. Sebagaimana diketahui, bisnis perbankan selalu diliputi ketidakpastian (uncertainty) dimana kita tidak dapat menentukan berapa banyak nasabah kita akan menarik dananya hari ini atau sebaliknya, yaitu berapa banyak nasabah akan menyetorkan dana. Oleh karena itu, bank harus selalu berjaga-jaga terhadap nasabah-nasabah seperti ini. Pembelian surat berharga berjangka pendek dan mudah dicairkan ditujukan untuk menghadapi keadaan di mana sewaktu-waktu bank kekurangan dana yang tersedia di dalam primary reserve.
2.      Untuk menambah income  bank
Berbeda dengan tujuan pertama, yaitu menambah likuiditas, pada tujuan kedua yang penting adalah menambah income. Maka, yang dibeli adalah surat berharga jangka panjang. Pendapatannya diperoleh dari pembagian dividen atau kupon dari pembelian saham-saham dan obligasi. Tentu saja karena surat berharga yang dipilih berjangka panjang, sifat dana yang digunakan untuk membeli surat berharga ini harus benar-benar merupakan sisa sesudah ketiga prioritas penggunaan dana yang utama dipenuhi.

C.     Memenuhi Keputusan Penggunaan Dana Untuk Investasi
Meskipun alokasi dana bank yang paling besar saat ini adalah untuk pemberian kredit, ada beberapa persen dari keseluruhan total dana yang dialokasikan pada surat-surat berharga. Pembelian surat berharga ini meliputi beberapa macam, yaitu surat berharga janga pendek, menengah, dan panjang. Peraturan memungkinkan bank untuk melakukan pilihan investasi pada debt securities yang dikeluarkan oleh pemerintah dengan beberapa perkecualian yang diantaranya adalah tidak diperbolehkan untuk membeli surat berharga pada rekening pribadi.
Karena pemberian kredit kepada nasabah dapat memberikan hasil yang lebih tinggi dari pembelian surat-surat berharga, bank dapat secara maksimal menggunakan dananya untuk pemberian kredit. Namaun, hal ini tidak mungkin karena:
1.      Permintaan akan kredit bersifat cyclical, untuk beberapa masa, permintaan akan kredit yang baru jauh melebihi kemampuan dana yang dapat dipinjamkan.
2.      Bank tidak dapat memperkirakan secara tepat arus dana yang masuk sehingga bank tidak mungkin mengalokasikan seluruh dananya pada kredit.
`           surat berharga dapat digunakan untuk menutup kekurangan likuiditas apabila nasabah yang ingin menarik depositonya terlalu banyak. Surat berharga ini dapat dijual dengan cepat tanpa mengalami kerugian yang berarti dan dana yang diperoleh dari penjualan dapat dipakai untuk menutup arus dana deposito yang mengalir deras.
Dengan melihat hal-hal tersebut di atas, dapat disimpulkan penanaman dana di dalam surat berharga dapat diharapkan hasilnya sebagai penambahan incomeI. Di lain pihak, dapat juga digunakan sebagai cadangan apabila kekurangan likuiditas yang diakibatkan oleh arus dana keluar yang tidak dapat diperkirakan.
D.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Investasi
Sebelum memutuskan untuk mengalokasikan dana dalam bentuk investasi surat berharga jangka panjang, bank harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
1.      Jangka waktu
Dalam hal ini apabila jangka waktu surat berharga yang dibei panjang sekali, maka faktor ketidakpastian akan semakin besar sehingga perlu dipertimbangkan apakah dana yang diinvestasikan tersebut benar-benar tidak akan digunakan untuk waktu singkat.
2.      Tingkat bunga
Faktor tingkat bunga ini penting sekali karena pengetahuan tentang tingkat bunga bagi seorang manajer bank sangat menentukan sekali apakah ia akan membeli surat berharga jangka panjang atau surat berharga jangka pendek.
3.      Pajak
Jenis pajak untuk setiap surat berharga jangka panjang bermacam-macam. Tentu saja bank akan memperhitungkan surat berharga dengan pajak yang minimum supaya pendapatan yang diterima bank maksimum.
4.      Mudah dipasarkan atau tidak
Kalau surat berharga yang dibeli tidak mudah dipasarkan, maka bank akan kesulitan apabila ingin menjual kembali di bursa efek.
5.      Kualitas dan keamanan
Surat berharga yang dikeluarkan oleh pemerintah biasanya tidak berrisiko, tetapi surat berharga yang dikeluarkan oleh instansi swasta perlu dilihat apakah instanti yang mengeluarkan surat berharga tersebut cukup terjamin pertumbuhannya sehingga surat berharga yang dikeluarkan juga terjamin keamanannya.
6.      Harapan di masa mendatang
Apakah surat berharga tersebut mempunyai prospek yang baik sehingga kapau membeli tidak akan timbul kerugian? Apabila dinilai bahwa surat berharga mempunyai harapan bagus di masa mendatang, keputusan untuk investasi pada surat berharga jangka panjang tersebut akan semakin mantap.
7.      Diversifikasi
Seorang manajer bank perlu mengetahui diversifikasi dari surat berharga sehingga dalam menentukan pilihan, banyak alternatif yang dapat dikemukakan. Disamping itu, investasi pada bermacam-macam surat berharga juga mengurangi tingkat risiko kerugian yang harus ditanggung oleh bank.


[1][1][1] Mahasiswa STEI Hamfara Yogyakarta. Jurusan Keuangan dan Perbankan Syari’ah
[2] Veithzal Rivai, dkk. Bank and Financial Institution Management. 2007. PT Raja Grafindo Persada. Hal. 395

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar